WIKA Bakal Merger dengan PTPP, Manajemen Buka Suara


Jakarta, CNBC Indonesia – Wacana merger PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dengan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) terbuka. Meski begitu, kepastiannya masih menunggu pembahasan para pemegang saham.

“Kami dari sisi manajemen monggo saja, namun itu di ranahnya pemegang saham,” ujar Adityo Kusumo, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dalam acara publix expose live Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/11/2023).

Sampai dengan saat ini manajemen mengaku masih menunggu dan akan seperti apa langkah korporasi ke depannya.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serius akan melakukan pembenahan pada perusahaan pelat merah yang memiliki kinerja buruk, termasuk di sektor karya. Menteri BUMN Erick Thohir memastikan perusahaan BUMN di sektor infrastruktur dan karya akan dilakukan konsolidasi.
Erick mengungkapkan, terkait proses konsolidasi tersebut akan dibagi menjadi dua segmen, yakni perusahaan BUMN karya dengan skala kecil diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dan Danareksa untuk dilakukan merger.

“Kita tetap melakukan konsolidasi sesuai blue print dua tahun lalu. Sebaiknya dari 9 jadi 4 aja. Untuk karya-karya nanti kita mau coba konsolidasi Hutama Karya dengan Waskita, PP dengan WIKA,” ujarnya di kantornya, Rabu (3/5).

“Konsolidasi karya dipastikan akan terjadi, yang mana belum jadi keputusan. Tapi framework sepertinya yang ada di PPA Danareksa karena yang kecil-kecil, di merger,” kata Erick di Kantornya, Rabu (3/5).

Namun, perusahaan dengan skala besar seperti Hutama Karya (HK), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), hingga PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) masih dalam proses pengkajian.

“Sistemnya kepemilikan seperti HK dan Waskita, seperti Bank Mandiri punya BSI padahal di bawahnya merger, tapi keputusan ini belum terjadi,” jelasnya.

Erick mengungkapkan, proses konsolidasi akan disesuaikan dengan cetak biru (blueprint) dua tahun lalu yang diterbitkan Boston Consulting Group (BCG). Laporan tersebut telah merekomendasikan cukup ada empat BUMN karya yang memiliki segmentasi berbeda sesuai dengan keahlian.

“Sebaiknya BUMN karya dari sembilan BUMN menjadi empat BUMN. Ada ekspertis di gedung dan lain-lain, jadi tidak semua atau palugada,” ungkapnya.

Erick menambahkan, upaya konsolidasi BUMN karya akan dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu proyek yang saat ini sedang berjalan atau bahkan agar tidak merusak kinerja.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Ramai BUMN Karya Dapat Proyek IKN, Siapa yang Paling Jumbo?

(ayh/ayh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *