Sosok Ini Pernah Diusir Satpam Bioskop, Kini Raja Film RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Menjadi anak dari seorang pedagang di Surabaya tidak membuat hidup Raam Punjabi diselimuti keistimewaan. Orang tua-nya mengetahui mana kegiatan yang penting atau tidak.

Atas dasar ini, kehidupan masa kecil Raam biasa-biasa saja. Dia tak dimanjakan oleh berbagai keistimewaan yang dimiliki keluarga, termasuk hanya sekedar akses hiburan.

Kala itu, di tahun 1950-an, salah satu hiburan yang digandrungi masyarakat adalah bioskop. Raam yang masih berusia belasan tahun juga terpikat untuk nonton film di sana. Sayangnya, dia tak diperbolehkan ayahnya untuk menonton bioskop.

Alasannya simpel: tidak punya uang lebih. Bagi ayah, nonton film adalah kegiatan menghamburkan uang. Terlebih, harga karcis saat itu sekitar Rp1-Rp3 tergantung tingkat kelas–setara uang jajan Raam selama seminggu.

Pikir ayah, lebih pilih nonton film atau tidak jajan selama seminggu?

Terlebih harga segitu memang terlalu besar untuk keluarga Raam, sehingga menonton bioskop bukan sesuatu yang wajib. Meski begitu, Sang Ayah bakal tetap mengajak satu keluarga nobar dengan syarat: nilai anak-anak harus bagus.

Sadar syarat dari ayah sulit dicapai dan dibarengi oleh besarnya hasrat nonton film, Raam tak hilang akal.

“Setahu saya, banyak penjaga bioskop yang cukup ramah dan baik. Langkah pertama saya tentu saja berkenalan dengan para penjaga bioskop dan mulai banyak mengobrol dengan mereka. Setengah mati saya berusaha mencari topik-topik yang lucu untuk bahan obrolan,” kata Raam dikutip dari Panggung Hidup Raam Punjabi (2005).

Setelah melakukan itu dan kelihatannya si penjaga sudah cukup asik, Raam pun mengeluarkan ‘tembakan’ yang membuat siapapun tak bisa mengelak.

“Pak saya masih kecil. Saya masuk nonton ya, Pak. Duduk di depan pasti gak bakal merugikan perusahaan kok,” ujarnya sambil membujuk.

Orang dewasa pada dasarnya sulit menolak bujuk rayu anak kecil menggemaskan. Alhasil si penjaga langsung memperbolehkan Raam kecil nobar di bioskop. Tentu, posisi Raam kala itu adalah penonton gelap. Jika ketahuan petugas keamanan, pasti dia kena sikat. Beruntung, dewi fortuna selalu berada di sisi Raam.

Selama hampir 20 kali menonton film secara diam-diam ini, Raam tidak pernah ketahuan. Dia bisa bebas menonton film bagus yang tayang, baik itu dari Hollywood atau film-film India kegemarannya. Hanya saja, penjaga memperbolehkan Raam nonton di kursi kelas 3 dan langsung pulang sebelum film selesai.

Meski begitu, bukan berarti cara ini tak pernah ketahuan petugas. Raam berulang kali kena usir. Namun, itu tetap saja tak membuatnya kapok dan terus mengulangi berulang kali.

Pada akhirnya, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Ketika itu, di tahun 1956, Raam dan kakaknya sedang menonton film Aladin & A Wonderful Lamp (1952) di bioskop terciduk polisi. 

Polisi datang ke bioskop dan memergoki mereka di pelataran bioskop. Tanpa basa-basa, polisi tersebut langsung membawa mereka ke kantor polisi.

Rupanya, alasan polisi bersikap demikian karena film itu diperuntukkan untuk usia 13 tahun ke atas. Sedangkan, Raam dan saudaranya masih di bawah 13 tahun. Artinya, seharusnya mereka tidak boleh masuk.

“Keruan saya dicekam rasa was-was. Kami bertiga menggigil ketakutan,” kenang Raam.

Sesampainya di kantor polisi, mereka diinterogasi soal usia dan mengapa menonton film usia 13 tahun ke atas. Apalagi, mereka tidak punya tiket.

Singkat cerita, dari interogasi itu, hanya Raam yang dipulangkan ke rumah. Kedua kakaknya diizinkan nobar lagi karena usia mereka sudah di atas 13 tahun.

“Bukan main sedihnya hati saya. Sepanjang jalan saya nangis,”pungkasnya.

Meski begitu, kejadian itu justru menjadi berkah tersendiri bagi Raam. Pasalnya, terlepas dari perbuatan Raam saat nonton bioskop, di situlah minatnya terhadap industri film tumbuh.

Kelak, Raam, yang dulu tak diperbolehkan nobar dan pernah diusir dari bioskop, mendirikan perusahaan film ternama PT Tripar Multivision Plus. Lewat perusahaan itulah, Raam menghasilkan film-film berkualitas dan legendaris yang menjadikannya sebagai raja film Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Rumah Produksi Raam Punjabi Resmi IPO, Sahamnya Layak Beli?

(mfa/mfa)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *