Dana Asing Mengalir Lagi ke RI, Rupiah Sumringah

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) merilis data capital flow pekan lalu dan sikap bank sentral AS (The Fed) yang diekspektasikan dovish.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat di angka Rp15.440/US$ atau terapresiasi 0,32% dan merupakan posisi terkuat sejak 25 September 2023. Penguatan ini juga melanjutkan kenaikan di hari sebelumnya yang juga terapresiasi sebesar 0,32%.

Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 14.55 WIB turun 0,21% menjadi 103,69. Angka ini lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (17/11/2023) yang berada di angka 103,91.


Penguatan rupiah seiring dengan dana investor asing yang kembali mengalir ke pasar keuangan domestik. Tercatat asing beli neto Rp7,33 triliun (beli neto Rp2,49 triliun di pasar SBN, beli neto Rp0,87 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp3,97 triliun di SRBI).

Hal ini berkebalikan dengan data transaksi 6-9 November 2023, dimana net sell asing sebesar Rp1,27 triliun. Mereka keluar dari pasar domestik baik di pasar SBN maupun di pasar saham.

Catatan net buy sebesar Rp7,33 triliun pada pekan ini adalah yang tertinggi sejak pekan pertama Mei 2023 atau lebih dari enam bulan terakhir.

Di samping itu, optimisme pasar perihal suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan akan ditahan pada Desember 2023 menjadi salah satu faktor terjadinya apresiasi pada mata uang Garuda.

Pada Rabu (22/11/2023) pagi hari, Risalah Federal Open Market Committee (FOMC) diproyeksikan akan menghasilkan nada dovish yang datang dari The Fed.

Mengingat inflasi Negeri Paman Sam kembali turun pada bulan Oktober lalu, pelaku pasar akan mencari sinyal lebih lanjut bahwa siklus kenaikan suku bunga mungkin akan segera berakhir

Fokus pasar pada risalah FOMC pekan ini adalah apakah The Fed berada di jalur yang tepat dengan target inflasi 2%, pelaporan lapangan kerja, menghindari resesi, atau apakah perekonomian AS sedang lesu.

Namun, beberapa ahli memperkirakan The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada paruh pertama tahun 2024, bukan pada paruh kedua.

Untuk diketahui, perangkat CME FedWatch berekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunganya dalam dua FOMC ke depan dan 48,2% pelaku pasar meyakini The Fed akan memangkas suku bunga pada Mei 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Segini Harga Jual Beli Kurs Rupiah di Money Changer

(rev/rev)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *